Komunitas Pecinta Sugar Rush Buka Cafe Bertema Candy Land di Jakarta, Jadi Tempat Nongkrong Hits
Di sebuah ruko dua lantai kawasan Kemang, Jakarta Selatan, antrean mengular sejak pukul sepuluh pagi. Mereka kebanyakan anak muda, bergantian berfoto di depan pintu masuk berbentuk mulut karakter game raksasa. Di dalam, suasana seperti negeri dongeng: dinding berwarna pink cerah, pilar-pilar berbentuk lolipop raksasa, kursi-kursi mirip cupcake, dan lampu gantung bergambar permen. Inilah Candy Rush Cafe, tempat nongkrong terbaru yang sedang hits di kalangan pecinta game dan pencinta estetika warna-warni.
Di balik kesuksesan ini, ada cerita tentang sekelompok anak muda yang tidak hanya ingin bermain game, tapi juga menghidupkan dunianya di dunia nyata. Dan yang menarik, inspirasi mereka datang dari kota kecil di Nusa Tenggara Timur: Ende.
Dari Ende ke Jakarta: Inspirasi yang Menginspirasi
Semua berawal dari sebuah artikel yang viral di grup WhatsApp komunitas pecinta game Sugar Rush Jakarta. Artikel itu bercerita tentang Komunitas Pecinta Sugar Rush di Ende yang mendapatkan bantuan modal dan membuka cafe bertema Candy Land , hingga kini menjadi ikon kota dan tempat nongkrong favorit.
Sekelompok anak muda Jakarta membaca artikel itu dengan mata berbinar. "Masa Ende bisa, kita di Jakarta kok enggak?" gumam salah seorang. Mereka mulai berdiskusi serius. Ende dengan segala keterbatasannya berhasil menciptakan sesuatu yang luar biasa. Jakarta dengan pasar yang jauh lebih besar, pasti punya peluang yang lebih luas lagi.
Mereka lalu menghubungi komunitas di Ende melalui media sosial, bertukar cerita, meminta tips dan trik. Respons dari Ende sangat terbuka. Para pendiri Sugar Rush Cafe di Ende dengan senang hati berbagi pengalaman: bagaimana menyusun proposal, bagaimana memilih lokasi, bagaimana mendesain interior, bagaimana menyusun menu. Hubungan yang hangat terjalin antara dua komunitas yang terpisah ribuan kilometer.
Mencari Modal dan Lokasi yang Tepat
Tantangan pertama tentu modal. Berbeda dengan komunitas Ende yang mendapat bantuan pemerintah, komunitas Jakarta harus memutar otak sendiri. Mereka patungan dari tabungan masing-masing, mengajukan pinjaman ke bank, dan bahkan melakukan crowdfunding di kalangan sesama pecinta game.
Terkumpul sekitar 300 juta rupiah, cukup untuk sewa ruko setahun, renovasi interior, dan stok awal. Lokasi di Kemang dipilih bukan tanpa alasan. Daerah ini dikenal sebagai pusat nongkrong anak muda Jakarta, dengan lalu lintas pejalan kaki yang tinggi dan komunitas kreatif yang besar.
Proses renovasi memakan waktu dua bulan. Mereka mendesain sendiri interiornya, terinspirasi dari game Sugar Rush tapi dengan sentuhan lokal. Lolipop raksasa dibuat dari bahan fiberglass oleh pengrajin Jakarta. Kursi cupcake dipesan dari bengkel las lokal. Lampu-lampu unik dibuat oleh perajin lampu di Pasar Senen. Semua melibatkan UMKM sekitar.
Konsep Candy Land yang Lebih Matang
Belajar dari pengalaman Ende, komunitas Jakarta menyempurnakan konsep Candy Land. Jika di Ende lebih fokus pada keindahan visual, di Jakarta mereka menambahkan elemen interaktif. Ada area "Sugar Rush Adventure" di lantai dua, tempat pengunjung bisa bermain game Sugar Rush di layar raksasa sambil duduk di bean bag berbentuk permen. Ada juga "Candy Wall" setinggi lima meter yang penuh dengan permen asli yang boleh diambil pengunjung secara gratis.
Setiap sudut dirancang untuk Instagramable. Mereka bekerja sama dengan fotografer profesional untuk menentukan titik-titik foto terbaik dan pencahayaan yang pas. Bahkan ada "lighting mode" khusus di setiap sudut yang bisa diatur pengunjung lewat panel sederhana: mode selfie, mode grup, mode produk, dll.
Menu makanan dan minuman juga lebih bervariasi. Selain menu andalan seperti Sugar Rush Pancake dan Rainbow Milkshake, mereka juga menghadirkan menu fusion: nasi goreng dengan topping warna-warni, mie ayam dengan saus pelangi, bahkan sate ayam dengan bumbu kacang yang disajikan dalam bentuk permen.
Filosofi Warna dan Psikologi Pengunjung
Yang menarik, dalam mendesain cafe ini, mereka tidak hanya asal pilih warna. Seorang anggota komunitas yang kebetulan mahasiswa psikologi memberikan masukan tentang psikologi warna. Pink memberi efek ceria dan romantis, kuning merangsang nafsu makan, hijau memberi efek menenangkan, biru memberi kesan luas dan lapang.
Kombinasi warna-warna cerah ini ternyata efektif membuat pengunjung betah berlama-lama. Banyak yang datang hanya untuk foto, lalu pesan minuman, lalu pesan makanan, lalu foto lagi, dan tanpa sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam.
Mereka juga memperhatikan psikologi antrean. Dengan pengunjung yang membeludak di minggu-minggu pertama, antrean tidak terhindarkan. Tapi mereka menyiapkan "waiting area" yang nyaman dengan kursi bean bag, minuman gratis, dan layar yang menampilkan countdown estimasi waktu tunggu. Strategi ini membuat pengunjung tidak mudah frustrasi dan tetap betah menunggu.
Antusiasme Pengunjung di Luar Dugaan
Begitu dibuka, antusiasme publik sungguh di luar dugaan. Pada pekan pertama, cafe selalu penuh sejak pukul sepuluh pagi hingga pukul sepuluh malam. Pengunjung rela mengantre hingga dua jam hanya untuk bisa masuk dan berfoto.
Media sosial langsung kebanjiran konten. Tagar #CandyRushCafe sempat menjadi trending di Twitter. Instagram dan TikTok dipenuhi video-video unboxing cafe, review menu, dan tentu saja foto-foto di setiap sudut. Selebgram dan influencer berdatangan, kebanyakan atas kemauan sendiri tanpa diminta endorse.
Seorang pengunjung, Dinda (24), mengaku datang dari Tangerang hanya untuk melihat langsung. "Dari Instagram udah penasaran banget. Pas datang, ternyata lebih keren dari foto. Suasana di s tuh bikin happy, cocok banget buat healing," katanya sambil tertawa.
Pengunjung lain, Rizky (27), datang bersama pacarnya. "Ini kencan kedua kami. Tempatnya romantis, warna-warni, makanannya juga enak. Dijamin bikin pacar seneng," ujarnya sambil tersipu.
Dampak ke UMKM Lokal
Seperti halnya di Ende, cafe ini juga melibatkan UMKM lokal. Kopi yang digunakan adalah kopi pilihan dari petani Jawa Barat. Susu segar dari peternak sapi di Bogor. Buah-buahan dari petani buah di Ciwidey. Kue-kue manisan dari home industri di Depok.
Beberapa produk seperti sirup, topping, dan camilan ringan dipasok oleh UMKM binaan. Mereka bahkan memberikan ruang display khusus di dalam cafe untuk produk-produk UMKM, gratis tanpa dipungut biaya. Ini adalah bentuk kontribusi mereka pada ekosistem ekonomi kreatif yang lebih luas.
Kerjasama ini saling menguntungkan. Cafe mendapat bahan baku segar dengan harga bersahabat, sementara UMKM mendapat pasar tetap dan promosi gratis. Beberapa pemasok bahkan kebanjiran order dari pengunjung cafe yang penasaran dan ingin membeli produknya langsung.
Belajar dari Pengalaman: Menghadapi Tantangan
Tentu tidak semua berjalan mulus. Tantangan terbesar justru datang dari internal: koordinasi antar anggota komunitas yang berjumlah dua belas orang. Perbedaan pendapat, ego sektoral, dan masalah pembagian kerja sempat memanas di awal.
Mereka belajar dari pengalaman komunitas Ende yang menjaga kekompakan dengan sistem shift dan evaluasi rutin. Di Jakarta, mereka menerapkan sistem yang lebih terstruktur: ada pembagian divisi (operasional, marketing, keuangan, SDM), rapat mingguan, dan laporan keuangan terbuka untuk semua anggota.
Tantangan lain adalah menjaga konsistensi kualitas. Dengan pengunjung yang membludak, kadang ada keluhan tentang makanan yang kurang enak atau pelayanan yang lambat. Mereka merespons dengan cepat: menambah staf, melatih ulang barista dan koki, dan memasang sistem feedback digital di setiap meja.
Komunitas yang Semakin Solid
Di balik kesibukan operasional cafe, ikatan antar anggota komunitas justru semakin kuat. Mereka yang dulu hanya bertemu saat main game online, kini bekerja bersama, makan bersama, susah bersama, senang bersama. Rasa memiliki terhadap cafe sangat besar karena mereka tahu ini adalah hasil kerja keras kolektif.
Seorang anggota, Putri (23), bercerita bagaimana ia rela cuti kuliah satu semester untuk fokus mengelola cafe. "Orang tua awalnya marah, ngira saya main game terus. Tapi setelah diajak ke cafe, lihat langsung ramainya, mereka malah bangga. Sekarang ibu sering bantu di dapur kalau weekend," katanya tertawa.
Anggota lain, Budi (29), yang sebelumnya kerja kantoran dan merasa jenuh, kini memilih fokus di cafe. "Gaji turun drastis, tapi kebahagiaan naik drastis. Bekerja di tempat seindah ini, dengan orang-orang seru, rasanya nggak seperti kerja. Setiap hari main, tapi dapet duit."
Rencana Ekspansi ke Depan
Dengan kesuksesan di bulan-bulan awal, mereka mulai berpikir untuk ekspansi. Beberapa pengunjung dari luar Jakarta bertanya apakah akan ada cabang di kota mereka. Surabaya, Bandung, Medan, bahkan Bali mulai dilirik sebagai target berikutnya.
Tapi mereka tidak mau terburu-buru. "Kami belajar dari Ende, mereka fokus dulu di satu tempat, memantapkan operasional, baru berpikir cabang. Kami akan lakukan hal yang sama," ujar ketua komunitas.
Yang pasti, mereka ingin mempertahankan nilai-nilai awal: bahwa cafe ini adalah milik komunitas, bukan milik perorangan. Jika nanti membuka cabang, akan ada pembagian saham yang melibatkan anggota komunitas di kota tersebut. Pola ini diharapkan bisa menjaga semangat kebersamaan dan mencegah konflik kepentingan.
Obrolan di Sela Ngopi
Gimana sih awal mulanya bisa kepikiran bikin cafe kayak gini?
Jadi awalnya kita baca artikel tentang komunitas Sugar Rush di Ende yang bikin cafe. Kita kagum banget, masa Ende bisa kita di Jakarta kok enggak. Akhirnya kita hubungi mereka, minta tips, dan mulai gerak. Jadi ini semua berkat inspirasi dari Ende.
Menu apa yang paling laris dan wajib dicoba?
Sugar Rush Pancake sama Rainbow Milkshape itu best seller abis. Tapi kalau mau yang agak lokal, coba Nasi Goreng Pelangi. Nasi goreng biasa tapi toppingnya warna-warni, unik banget. Anak-anak kecil juga suka.
Sibuk banget ya, sampai harus antre lama. Ada tips biar nggak terlalu lama nunggu?
Datang weekday pagi, pas buka jam 10. Kalau weekend atau sore, emang pasti ramai. Tapi kita sediain waiting area yang nyaman, ada minuman gratis, dan bisa sambil main game. Jadi nunggunya tetap asik.
Apakah boleh foto-foto bebas di sini?
Boleh banget, malah kita sediain spot foto di setiap sudut. Ada juga lighting mode yang bisa diatur sendiri. Tinggal pencet-pencet, cahayanya berubah, langsung jadi estetik. Dijamin feed Instagram makin kece.
Ada rencana buka cabang di kota lain nggak?
Ada wacana, tapi masih jauh. Kita mau fokus dulu di sini, pastikan semuanya beres, baru berpikir ke kota lain. Tapi doain aja semoga lancar, biar makin banyak orang bisa nikmatin Candy Land di kota mereka masing-masing.
Di sudut cafe, seorang anak kecil duduk di kursi cupcake sambil melahap es krim warna-warni. Ibunya sibuk memotret dari berbagai sudut. Di meja sebelah, sepasang kekasih berbagi pancake sambil sesekali berbisik. Di lantai dua, sekelompok remaja asyik main game sambil sesekali berteriak kegirangan. Candy Rush Cafe telah menjadi lebih dari sekadar tempat makan. Ia adalah ruang ketiga, setelah rumah dan sekolah, tempat orang bisa menjadi diri sendiri, melepas penat, dan merayakan kebahagiaan sederhana.
Di balik semua ini, ada cerita tentang anak-anak muda yang berani bermimpi dan mewujudkannya. Tentang komunitas yang tidak hanya eksis di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. Tentang inspirasi yang mengalir dari Ende ke Jakarta, dan kelak mungkin ke kota-kota lain di Indonesia. Sugar Rush telah mengajarkan mereka bahwa game bukan hanya tentang menang atau kalah, tapi tentang kreativitas, kebersamaan, dan keberanian untuk melompat dari layar ke dunia nyata.

